Sofia & Youssef

Sofia & Youssef

1. Bersuakah ?


Awal Oktober 1950, Hiruk pikuk pasca perang dunia II menyelimuti seluruh bagian Eropa barat, di dalam kereta barang menuju Marseille, terlelaplah pria muda berusia 21 tahun yang dengkurannya terdengar hingga ujung gerbong, dengan jambang tipis, alis khas Timur Tengah, serta kulit coklatnya yang penuh bulu halus, pria itu sekilas mirip dengan Joseph Stalin di masa mudanya. Jam menunjukkan pukul 14.00 waktu Italia, 5 jam lagi, sampailah rombongan tukang kayu tersebut di peron terakhir kota Marseille.
Hujan deras mengawali bulan Oktober kala itu, transaksi di Quai des Belges nampak tidak seriuh pada musim panas, nelayan kurang beruntung untuk mendapatkan kesempatan terbaiknya turun ke laut menggali potensi laut mediterania. Seorang wanita terlarut dalam lamunannya menatapi megahnya Cote d’Azur nan jauh di perbatasan kota, dalam hatinya, ia memasukkan tempat itu sebagai destinasi wajib sebelum dirinya wafat. Perasaan riang yang jelas tampak melalui raut wajah perempuan itu menjelaskan, bahwa wanita memerlukan sesuatu yang dapat menampik rasa dahaga atas kegelisahan untuk sesaat. Ironi memang,tetapi sudah jadi kodratnya untuk tetap kuat. Sofia berteriak bahagia, seisi rumah hanya tersenyum kecut mendengarnya.
Tangan tuan Deniz melayang mantap ke arah perut pemuda yang masih asyik terlelap. "Bangun kau anak muda!" teriak Tuan Deniz. Pemuda tersebut sontak meloncat dari matrasnya, sambil merintih lirih menahan pukulan Tuannya yang tepat mengarah ke ulu hati. Tanpa banyak bicara dia langsung bergegas menyiapkan barang bawaannya, ia tahu persis Tuan Deniz sangat anti dengan orang malas. Dasar, Youssef. 5 menit lagi kereta tersebut sampai, pemukiman warga yang tertata rapi di dekat bukit sudah terlihat jelas sejak 10 menit lalu. Youssef menyalakan rokoknya, sambil menikmati senja yang menyapa kota Marseille, kota yang membuat dia harus meninggalkan ibu dan 2 adik perempuannya di Izmir, kota dimana ia mengadu dan berserah diri akan kuasa Tuhan atasnya.
Bus sudah menanti kedatangan rombongan tersebut,supir yang beradu mulut dengan Tuan Deniz sedari tadi perihal keterlambatan membuat runyam suasana hening yang tercipta di peron, dengan bahasa Perancis yang belepotan Tuan Deniz masih tak tahu diri dan tetap berdebat,lucunya dia menang. Tuan Deniz mengisyaratkan para rombongan dengan peluit hijau yang ia simpan di saku mantelnya, Mandor jenis apa yang menyimpan peluit? Dengan penuh harap, Youssef melangkah pasti menuju bus itu, tanda hatinya mantap akan rejeki yang akan ia dapatkan seusai pekerjaan ini berakhir. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Special Region of Yogyakarta